Aku, Pohon yang ditanam dengan Air Mata
Penulis : Kenzo Manggala Alvaro
Namaku tidak penting. Aku hanyalah sebatang pohon kecil yang dulu hampir mati bahkan sebelum benar-benar hidup. Aku tumbuh disebuah bukit kering tanahnya retak, keras, dan sunyi, tidak ada suara burung, tidak ada aliran air, hanya panas yang membakar, dan kesepian yang panjang.
Suatu hari, seseorang datang. Seorang lelaki tua dengan langkah berat, napas terengah, tangannya kasar, penuh luka kecil. Namun, saat ia menyentuh tanah ada kehangatan terasa, lalu ia menggali lubang kecil dengan susah payah, dan menanamku disana.
Saat itu aku lemah, akar kecilku gemetar dalam tanah yang kering, aku tidak yakin bisa bertahan, bahkan aku ingin menyerah. Namun, saat ia mau pergi ada sesuatu yang jatuh diatas tubuhku, hangat, bukan hujan. Melainkan air mata.
“Mungkin kamu tidak akan hidup, tapi aku akan tetap mencoba.” bisiknya lirih.
Hari demi hari berlalu panas menyiksa, angin kering menusuk, aku hampir mati berkali-kali. Namun, lelaki tua itu selalu kembali membawa air sedikit demi sedikit, lalu ia menyiramku dengan sabar, dan berbicara seolah aku bisa mendengar.
“Tumbuhlah meski pelan…” katanya setiap kali ia datang.
Banyak orang menertawakannya, mereka menyebutnya gila karena menanam ditanah yang mati. Aku tidak tahu arti kata itu, tapi aku tahu satu hal, ia tidak pernah berhenti.
Suatu hari, seorang anak datang. Ia berkata bahwa aku tidak mungkin hidup. Namun, lelaki tua itu tersenyum dan berkata. Semua yang hidup pernah dianggap tidak mungkin. Sejak saat itu, anak tersebut mulai menanam pohon lain, aku tidak lagi sendiri. Kami mulai bertambah, sedikit demi sedikit, akar kami saling mencari saling menguatkan. Kami menahan tanah agar tidak runtuh, dan kami menyimpan air yang sedikit demi sedikit mulai hadir dan memberi kehidupan.
Suatu hari, aku merasakan sesuatu yang berbeda diujung akarku terasa dingin, lembut, dan mengalir. Air kecil, tetapi nyata. Itu sudah cukup untuk membuat kami bertahan hidup lebih lama. Lalu lelaki tua itu datang kembali, ia menangis dan berlutut, ia menyentuh tanah disekitarku.
“Terimakasih…” ucapnya lirih, penuh haru.
Sejak saat itu, bukit ini rerumput mulai tumbuh, pepohonan kecil mulai tegak, dan burung-burung datang dan kembali berkicau dengan riang. Angin tidak lagi terasa kering. Orang-orang mulai berdatangan. Mereka terkejut melihat perubahan yang terjadi. Mereka yang dulu meragukan, sekarang ikut menanam pohon lain dan belajar peduli.
Kini, bukit ini telah menjadi tempat yang mengasyikkan. Aku dan teman-teman pohon tumbuh semakin besar, akar kami semakin dalam dan kuat. Dedaunan kami semakin menghijau dan lebat.
Dan semua ini menjadi bukti bahwa aku bukan lagi pohon kecil yang rapuh, melainkan saksi dari ketekunan, kesabaran, dan harapan yang tidak pernah padam dari seorang lelaki tua yang penuh harapan dan semangat untuk mengembalikan kelebatan hutan dan kecintaan akan sumber air yang sangat dibutuhkan warga sekitar di bawah bukit.
Lalu suatu sore, lelaki tua itu datang kembali langkahnya lebih pelan dari biasanya. Dia duduk di dekatku, sangat dekat, seolah ingin bersandar.
“Mungkin aku tidak akan lama lagi.” katanya lirih. “Jaga mereka ya…”
Aku ingin menahannya tapi aku hanya pohon, sejak saat itu, ia pergi dan tidak pernah kembali. Waktu terus berjalan. Aku tumbuh lebih kuat dari sebelumnya. Dan bukit ini, kini hijau penuh kehidupan.
Dan aku selalu ingat akan lelaki tua itu, orang yang percaya pada harapan, bahkan saat harapan itu belum terlihat. Dia seseorang yang menumbuhkanku dengan menyiramku dengan air mata. Mungkin jika kamu berdiri di bawah rindangku, dengarkan baik-baik dengan sepenuh hati. Mungkin kamu akan mendengar bisikan yang sama: “Tumbuhlah meski pelan. Tetaplah kuat meski badai datang, karena akarmu belajar dari luka yang sangat lama, dan perjalananmu masih sangat panjang.”
Karya tersebut memperoleh juara 1 pada lomba FLS3N cabang menulis cerita tingkat kecamatan tahun 2026.

Prestasi membanggakan kembali ditorehkan oleh peserta didik kami. Kenzo Manggala Alvaro berhasil meraih Juara I Festival Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional (FLS3N) Cabang Menulis Cerita Tingkat Kecamatan Tahun 2026.
Keberhasilan ini menjadi bukti bahwa kemampuan literasi, kreativitas, dan imajinasi siswa terus berkembang melalui semangat belajar yang tinggi serta bimbingan dari para guru. Pada cabang Menulis Cerita, peserta dituntut mampu menuangkan gagasan ke dalam sebuah karya fiksi yang orisinal, kreatif, dan menarik sesuai dengan ketentuan FLS3N Tahun 2026.
Keluarga besar sekolah mengucapkan selamat dan apresiasi setinggi-tingginya kepada Kenzo Manggala Alvaro atas prestasi yang telah diraih. Semoga keberhasilan ini menjadi motivasi untuk terus berkarya, meningkatkan kemampuan literasi, serta menginspirasi peserta didik lainnya agar berani mengembangkan bakat dan meraih prestasi di berbagai bidang.
Semoga pada jenjang berikutnya Kenzo Manggala Alvaro dapat kembali memberikan hasil terbaik dan mengharumkan nama sekolah di tingkat yang lebih tinggi.
Selamat menempuh langkah berikutnya—semoga prestasi ini menjadi awal dari lebih banyak karya dan pencapaian di masa depan.